Berita Ekonomi & Bisnis
Berita Ekonomi & Bisnis – Menyajikan informasi terkini, peristiwa hingga hiburan dari Ekonomi dan Bisnis
Jakarta – Cerahnya pagi kala itu memberikan semangat bagi seluruh peserta Indonesia Marketing Associations (IMA) Sharing Session bertajuk Kiat Sukses Pemenang IMA UMKM Award – Apa Kunci Utamanya? yang ingin memperluas wawasannya dalam menjalankan bisnis. Mulai dari pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) dan anggota IMA dari berbagai chapter di Indonesia, para peserta berkumpul dengan satu tujuan yang sama, yaitu untuk membuka cakrawala baru dalam berbisnis.
Sejak awal sesi dimulai, antusiasme para peserta sudah terlihat. Melalui layar masing-masing, mereka menyimak dengan saksama berbagai cerita dan praktik terbaik yang dibagikan oleh dua pelaku UMKM inspiratif yang berhasil meraih penghargaan dalam ajang IMA UMKM Award 2025. Melalui kisah perjalanan usaha, tantangan yang dihadapi, serta solusi yang mereka temukan, sesi ini menjadi ruang berbagi yang bermanfaat bagi para pelaku UMKM yang ingin terus mengembangkan usahanya.
Membuka program tersebut, Direktur Eksektutif IMA, Yulian Warman, menekankan pentingnya reputasi dan komunikasi yang baik dalam membangun daya saing UMKM.
“Produk berkualitas tinggi merupakan fondasi penting dalam berbisnis. Namun, agar bisnis dapat berjalan secara berkelanjutan, pelaku UMKM juga perlu meningkatkan kemampuan dalam menyampaikan nilai produknya secara jelas, relevan, dan meyakinkan di mata pasar sebagai salah satu kunci penting untuk agar bisnis terus berkembang,” kata Yulian.
Selaras dengan Yulian, Direktur UMKM IMA Pusat, Ida RM Sigalingging, menyebutkan bahwa terdapat tiga kekuatan utama yang harus dimiliki oleh pelaku UMKM, yakni inovasi produk, strategi komunikasi pemasaran yang tepat, dan kepemimpinan entrepreneur yang kuat.
“Melalui penyelenggaraan IMA UMKM Award, kita dapat melihat bahwa UMKM yang bertumbuh tidak hanya memiliki produk yang bagus, tetapi juga yang siap belajar, beradaptasi, dan membangun sistem dan strategi komunikasi pemasaran yang lebih solid,” jelas Ida.
Untuk memperkuat pemahaman tersebut, dua UMKM Inspiratif membagikan pengalamannya di dalam program yang diselenggarakan pada Kamis (12/3) tersebut mengenai kiat-kiat dalam menjalankan bisnisnya hingga berhasil meraih predikat juara dalam penyelenggaraan IMA UMKM Award, yaitu Owner Embun818, Anggi Bitho Lokmanto, dan Founder Pilar Indonesia, Indra Wardhani. (lebih…)
KENDARI – Pertamina Patra Niaga memastikan kesiapan pasokan energi di seluruh wilayah Sulawesi Tenggara (Sultra) dalam rangka memenuhi kebutuhan selama Ramadan dan Idul Fitri 1447 Hijriah.
Sales Area Manajer Ritel Sultra Pertamina Patraniaga Regional Sulawesi, Agung Surya Pranata memastikan stok BBM maupun LPG saat ini dalam kondisi stabil. Stok BBM dipastikan tersedia untuk memenuhi kebutuhan selama 5 hingga 11 hari ke depan, termasuk LPG yang stoknya terjaga hingga lebih 1 minggu kedepan.
Pertamina juga memastikan tidak ada kenaikan harga, dimana harga LPG tetap mengikuti harga enceran tertinggi (HET) yang ditetapkan pemerintah dan BBM mengacu pada harga resmi pemerintah pusat.
“BBM ada empat fuel terminal, ada di Kendari, Kolaka, Bau-bau, dan Raha. Ini untuk suplai seluruh BBM dan juga minyak. Untuk LPG sendiri, kami ada lima tempat pengisian LPG akan suplai ke agen dan juga ke pangkalan. Insya Allah kami mempersiapkan semuanya menghadapi Ramadan dan Idul Fitri”, ujarnya.
Pertamina sendiri akan terus memantau kesediaan pasokan energi guna menjamin kelancaran aktivitas ibadah serta mobilitas warga yang biasanya mengalami peningkatan signifikan menjelang perayaan hari raya Idul Fitri.
Sumber: Sultratv/Youtube
KENDARI — Universitas Halu Oleo (UHO) melalui Program Kemitraan Masyarakat Internal (PKMI-UHO) kembali menunjukkan komitmennya dalam memberdayakan masyarakat, khususnya di sektor peternakan.
Kegiatan yang digelar di Kelurahan Watulondo, Kota Kendari ini mengangkat tema “Peningkatan Pendapatan Usaha Ternak Sapi Bali melalui Pemanfaatan Pakan Lokal dan Penguatan Kelembagaan Peternak.”
Kegiatan tersebut melibatkan tim dosen dan mahasiswa UHO, bekerja sama dengan penyuluh peternakan serta kelompok peternak sapi Bali setempat.
Tujuan utamanya adalah membantu peternak memahami pentingnya pemanfaatan bahan pakan lokal yang murah, mudah didapat, dan bernilai gizi tinggi, guna menekan biaya produksi serta meningkatkan produktivitas ternak.
“Melalui kegiatan ini, kami ingin mendorong peternak untuk lebih mandiri dalam mengelola usaha ternaknya, terutama dengan memanfaatkan potensi bahan pakan lokal yang ada di sekitar,”
ujar Prof. Dr. Ir. H. La Ode Nafiu, M. Si, IPU., ASEAN. Eng

Selain sosialisasi tentang pakan lokal, tim PKMI-UHO juga memberikan materi penguatan kelembagaan peternak sapi Bali. Materi ini difokuskan untuk membangun kerja sama yang solid antaranggota kelompok, meningkatkan daya tawar, dan memperkuat sistem pemasaran hasil ternak.
Para peserta yang hadir terdiri dari peternak, penyuluh, serta perwakilan masyarakat setempat. Mereka tampak antusias mengikuti penyuluhan yang dibawakan oleh tim akademisi UHO dan tenaga ahli di bidang peternakan.
“Kami sangat senang UHO datang langsung memberikan pendampingan seperti ini. Banyak hal baru yang kami pelajari, terutama soal pakan alternatif dan manajemen kelompok,”
ungkap perwakilan peternak sekaligus Ketua Kelompok Ternak Sapi Bali Watulondo.
Melalui kegiatan PKMI ini, Universitas Halu Oleo berharap dapat terus menjadi mitra aktif masyarakat dalam meningkatkan kesejahteraan, khususnya di bidang peternakan yang menjadi potensi unggulan daerah.
“Kegiatan seperti ini bukan hanya tentang teori, tapi juga bagaimana hasil riset kampus bisa benar-benar dirasakan manfaatnya oleh masyarakat,” paparnya.

Program Kemitraan Masyarakat Internal UHO ini menjadi salah satu bentuk nyata implementasi Tri Dharma Perguruan Tinggi, khususnya dalam bidang pengabdian kepada masyarakat, untuk mendorong peningkatan ekonomi lokal yang berkelanjutan.
Tim pelaksana PKMI FPt UHO terdiri dari
1. Dr. Ir. Musram Abadi, S. Pt, M. Si, IPM.
2. Prof. Dr. Ir. H. La Ode Nafiu, M. Si, IPU., ASEAN. Eng
3. Prof. Dr. Ir. H. Takdir Saili, M.Si
4. Firman Nasiu, S. Pt., M. Sc., Ph. D
5. Muh. Haidir Hakim, SP ., M.Si
6. Garhan, S.Pt, M. Si
7. Muh. Darmawansya, S.Pt
Tim Redaksi
Tantangan di Tengah Arus Globalisasi Agribisnis
Dalam dua dekade terakhir, sektor pertanian global mengalami transformasi besar akibat ekspansi perusahaan agribisnis multinasional. Dari benih, pupuk, hingga perdagangan hasil pertanian, sebagian besar rantai nilai global kini dikuasai oleh segelintir korporasi raksasa seperti Cargill, Monsanto (Bayer), Syngenta, Nestlé, dan Archer Daniels Midland (ADM). Mereka tidak hanya menguasai teknologi dan modal, tetapi juga menentukan standar harga, kualitas, dan arah pasar dunia.
Indonesia, sebagai negara agraris dengan sumber daya alam melimpah, tentu menjadi sasaran utama ekspansi tersebut. Menurut Data BPS (2024), Impor pupuk Indonesia pada tahun 2024 diperkirakan mencapai sekitar 7,52 juta ton, meningkat sekitar 40,21% dari tahun sebelumnya yang sebesar 5,36 juta ton. Berdasarkan data terbaru dari Statistik Ekonomi Pertanian Juni 2024, diperkirakan impor benih Indonesia pada tahun 2024 mencapai sekitar 210.000 ton. Jumlah ini menunjukkan peningkatan dibandingkan tahun sebelumnya, yang mengindikasikan kebutuhan impor benih tetap tinggi untuk mendukung produksi pertanian nasional, terutama tanaman pangan dan hortikultura.
Ironisnya, kekuatan besar yang seharusnya menjadi peluang justru sering kali berbalik menjadi ketergantungan. Petani lokal masih berada di posisi paling lemah dalam struktur pasar, sementara keuntungan besar tersedot ke pusat-pusat korporasi global.
Situasi ini menimbulkan pertanyaan mendasar: bagaimana strategi nasional yang efektif untuk menghadapi dominasi agribisnis multinasional tanpa menutup diri dari arus globalisasi ekonomi?
1. Menguatkan Agribisnis Nasional Berbasis Sumber Daya Lokal
Langkah pertama yang paling mendasar dalam memperkuat posisi Indonesia di sektor agribisnis global adalah membangun fondasi agribisnis nasional yang berbasis pada potensi lokal. Indonesia memiliki kekayaan agroekosistem yang luar biasa, mulai dari lahan subur, iklim tropis yang mendukung, hingga keanekaragaman hayati yang tidak dimiliki oleh negara lain. Namun, potensi besar ini belum dioptimalkan secara maksimal karena berbagai kendala seperti rantai pasok yang lemah, keterbatasan sistem pembiayaan, serta ketergantungan pada input impor seperti benih, pupuk, dan pestisida. Oleh karena itu, penguatan agribisnis nasional harus dimulai dari pemberdayaan pelaku lokal dengan menitikberatkan pada tiga pilar utama yang saling mendukung.
Pertama, petani harus diposisikan sebagai pelaku utama yang tidak hanya berperan sebagai produsen bahan mentah, tetapi juga sebagai pelaku bisnis yang mampu mengelola, mengolah, dan memasarkan hasil pertaniannya sendiri. Penguatan kelembagaan petani melalui koperasi modern dan pengembangan agripreneurship menjadi langkah penting agar mereka memiliki posisi tawar yang lebih kuat dalam rantai nilai agribisnis. Kedua, pemanfaatan sumber daya lokal perlu dioptimalkan dengan mengarahkan produksi pertanian berbasis bahan baku dan teknologi yang tersedia di dalam negeri. Penggunaan pupuk organik, benih unggul lokal, serta teknologi sederhana berbasis kearifan lokal dapat mengurangi ketergantungan terhadap input impor yang selama ini dikuasai korporasi asing. Ketiga, diversifikasi produk bernilai tambah harus menjadi prioritas agar agribisnis nasional tidak berhenti pada ekspor bahan mentah semata. Pembangunan industri pascapanen di daerah, terutama untuk komoditas unggulan seperti kopi, kakao, rempah, dan kelapa, dapat membuka lapangan kerja baru sekaligus meningkatkan daya saing ekspor.
Dengan strategi yang berbasis pada kekuatan lokal ini, Indonesia memiliki peluang besar untuk tidak lagi menjadi sekadar pemasok bahan mentah bagi pasar global, melainkan menjadi pemain penting dalam rantai nilai agribisnis internasional yang berdaulat, berdaya saing, dan berkelanjutan.
2. Membangun Sinergi Kebijakan Pertanian, Perdagangan, dan Investasi
Salah satu kelemahan utama dalam pengelolaan agribisnis nasional adalah masih terjadinya fragmentasi kebijakan. Sektor pertanian, perdagangan, dan investasi sering berjalan sendiri-sendiri dengan orientasi yang tidak selalu searah. Akibatnya, berbagai upaya penguatan agribisnis nasional kerap terhambat oleh tumpang tindih regulasi, ketidaksinkronan program, dan perbedaan kepentingan antarlembaga pemerintah. Kondisi ini menjadikan agribisnis nasional kurang efisien dan sulit beradaptasi terhadap dinamika pasar global yang semakin kompetitif.
Untuk menghadapi dominasi korporasi multinasional yang memiliki sumber daya besar dan jaringan luas, Indonesia membutuhkan sinergi kebijakan lintas sektor yang terarah dan berkelanjutan. Pertama, diperlukan integrasi antara kebijakan pertanian dan perdagangan, di mana kebijakan ekspor-impor harus disesuaikan dengan agenda penguatan produksi dalam negeri. Liberalisasi perdagangan pertanian tidak boleh dibiarkan melemahkan usaha kecil dan menengah di sektor pangan. Karena itu, kebijakan tarif, kuota, dan sertifikasi produk perlu dirancang agar berpihak pada pelaku agribisnis lokal. Kedua, reformasi kebijakan investasi pertanian perlu dilakukan dengan menekankan prinsip kemitraan dan keberlanjutan. Investasi asing memang penting, tetapi harus disertai mekanisme transfer teknologi dan peningkatan kapasitas tenaga kerja lokal. Pemerintah dapat mewajibkan setiap investor agribisnis asing untuk bermitra dengan koperasi, BUMDes, atau perusahaan daerah agar manfaat ekonomi tersebar lebih merata.
Selain itu, sinergi kelembagaan nasional juga menjadi kunci. Kementerian Pertanian, Perdagangan, dan Investasi perlu memiliki platform koordinasi terpadu untuk merancang strategi agribisnis nasional yang terintegrasi. Pendekatan One Data Agriculture dapat dijadikan dasar perencanaan agar setiap kebijakan berbasis data yang akurat dan saling terhubung. Dengan kebijakan yang harmonis dan berkesinambungan, Indonesia tidak hanya mampu menahan laju dominasi korporasi global, tetapi juga dapat memanfaatkan kehadiran mereka untuk memperkuat fondasi ekonomi domestik serta memperkokoh kedaulatan pangan nasional.
3. Mengoptimalkan Peran BUMN dan Koperasi Desa Merah Putih sebagai Penggerak Agribisnis Nasional
Salah satu strategi paling efektif untuk memperkuat posisi Indonesia dalam pasar global adalah menghidupkan kembali peran Badan Usaha Milik Negara (BUMN) dan koperasi pertanian modern.
- BUMN sebagai lokomotif agribisnis strategis. BUMN seperti PTPN, Bulog, dan ID FOOD memiliki infrastruktur, sumber daya manusia, serta jaringan logistik yang luas. Namun, peran mereka perlu diperkuat agar tidak hanya berfungsi administratif, melainkan juga sebagai lead firm dalam rantai pasok nasional. BUMN bisa menjadi off-taker utama bagi produk petani lokal, menjamin harga, sekaligus membuka akses pasar ekspor dengan merek nasional.
- Koperasi Desa Merah Putih sebagai mitra strategis. Koperasi yang dikelola profesional dapat menjadi perantara antara petani di desa dan pasar global. Model koperasi baru berbasis digital (e-cooperative) mampu meningkatkan transparansi, efisiensi, dan keadilan distribusi keuntungan. Koperasi Desa Merah Putih Sidomulyo di Jember, Jawa Timur, adalah contoh koperasi desa yang sudah melakukan ekspor, yaitu mengekspor perdana produk kopi ke Brunei Darussalam, Hong Kong, dan Singapura. Pencapaian ini difasilitasi oleh Export Center Surabaya dan menjadi bukti potensi desa untuk menembus pasar global.
- Sinergi BUMN-koperasi-swasta nasional. Sinergi ini dapat diwujudkan melalui skema public-private partnership di bidang pengolahan hasil pertanian, logistik, dan ekspor. Dengan kerja sama ini, rantai nilai pertanian nasional menjadi lebih solid dan kompetitif di pasar global.
4. Kebijakan Menuju Kedaulatan Pangan dan Ekonomi Pertanian
Agar strategi di atas berjalan efektif, diperlukan kerangka kebijakan nasional yang berorientasi pada kedaulatan pangan dan ekonomi rakyat. Beberapa rekomendasi penting antara lain: (1) Fokus pada produksi dalam negeri, pemanfaatan benih lokal, dan peningkatan kapasitas petani; (2) Menjamin petani kecil memiliki akses terhadap lahan produktif, pembiayaan murah, dan asuransi pertanian; (3) Memberikan kemudahan pajak dan infrastruktur bagi pelaku usaha yang mengembangkan industri pascapanen lokal; (4) Pemerintah perlu aktif dalam forum internasional (WTO, FAO, ASEAN) untuk memperjuangkan kepentingan petani dan produk nasional; (5) Universitas dan lembaga penelitian perlu didorong untuk menghasilkan teknologi tepat guna yang sesuai karakteristik lokal, bukan sekadar meniru model asing.
Dengan kebijakan yang berpihak pada rakyat dan berbasis pengetahuan, Indonesia dapat bertransformasi dari market follower menjadi market leader dalam agribisnis global.
Dari Impor Menuju Ekspor
Indonesia sebagai negara agraris masih menghadapi paradoks: potensi sumber daya alam yang besar belum mampu menekan ketergantungan terhadap impor pangan. Kedelai, gula, hingga daging sapi masih didatangkan dari luar negeri karena produktivitas pertanian dalam negeri rendah dan rantai pasok belum efisien. Untuk mengubah arah dari impor menuju ekspor, Indonesia perlu memperkuat produksi berbasis sumber daya lokal melalui inovasi teknologi, penguatan koperasi, serta pengembangan industri pengolahan hasil pertanian di daerah sentra produksi. Selain itu, sinergi antara kebijakan pertanian, perdagangan, dan investasi menjadi kunci. Pemerintah harus mendorong substitusi impor pada komoditas strategis, memperbaiki infrastruktur logistik, dan menciptakan iklim investasi yang berpihak pada pelaku usaha nasional. Dalam jangka panjang, penguatan BUMN dan koperasi modern dapat menjadi motor penggerak ekspor produk pertanian bernilai tambah tinggi.
Transformasi ini bukan sekadar persoalan ekonomi, tetapi juga langkah menuju kedaulatan pangan dan kemandirian bangsa. Ketika Indonesia mampu memenuhi kebutuhan dalam negeri dan menembus pasar global dengan produk unggulan lokal, maka posisi Indonesia akan semakin kuat sebagai kekuatan agribisnis dunia yang mandiri dan berdaya saing.
Penulis: La Ode Muhsafaat (G3IP25010), Mahasiswa S3 Prodi Ilmu Pertanian Universitas Halu Oleo
TANGERANG – PT Federal International Finance (FIFGROUP), anak perusahaan PT Astra International Tbk sekaligus bagian dari Astra Financial, kembali menunjukkan komitmennya menghadirkan inovasi dan inspirasi bagi masyarakat Indonesia. Salah satu wujudnya adalah melalui kolaborasi dengan konten kreator internasional Kristian Hansen. Dalam kolaborasi ini,
FIFGROUP mendukung perjalanan Kristian menjelajahi Nusantara dengan memberikan Honda CRF1100L Africa Twin DCT 2024 yang telah dimodifikasi sebagai “Teman Traveling” melalui kampanye #FIFGROUP1PenuhMakna.
Kristian Hansen, content creator dan travel influencer internasional, dikenal luas atas perjalanannya menjelajahi Indonesia dari Sabang hingga Merauke. Ia telah mengunjungi beragam destinasi, mulai dari jembatan-jembatan desa di Wakatobi, pesisir Sulawesi, hingga kota-kota kecil di Maluku. Melalui lensa kameranya, Kristian memotret keindahan alam, keragaman budaya, dan kisah masyarakat setempat yang ia temui di sepanjang perjalanan.
Melalui kolaborasi ini, motor Honda yang diberikan FIFGROUP sebagai “Teman Traveling Kristian” mendampingi Kristian menjelajahi berbagai daerah. Seluruh perjalanan ini didokumentasikan secara inspiratif melalui konten digital di kanal yang Kristian kelola, dengan menyisipkan pesan positif termasuk edukasi keselamatan berkendara (safety riding) yang sejalan dengan komitmen FIFGROUP.

Sebagai bagian dari rangkaian kolaborasi ini, FIFGROUP menghadirkan sesi talkshow “Kumpul Warga Bareng Kristian Hansen – Jelajah Sabang sampai Merauke” pada Sabtu, 27 September 2025 di Booth FIFGROUP Hall 10, ICE BSD City, Kabupaten Tangerang, dalam ajang Indonesia Motorcycle Show (IMOS) 2025. Melalui talkshow ini, pengunjung IMOS mendengar langsung cerita Kristian tentang perjalanan lintas Nusantara, pengalaman unik, hingga pesan untuk
generasi muda agar lebih mencintai Indonesia.
Yang paling berharga bagi saya bukan hanya pemandangan, tetapi pengalaman bertemu masyarakat lokal dan belajar budaya mereka. Perjalanan ini semakin lengkap karena saya bisa menjelajahinya dengan Honda CRF1100L Africa Twin DCT 2024 sebagai ‘Teman Traveling’ saya. Awalnya saya sempat mengira motor ini akan terasa berat, tetapi ternyata sangat nyaman dan responsif untuk dikendarai. Rasanya benar-benar seperti ‘Love at First Ride’, ungkap Kristian.
Direktur FIFGROUP, Daniel Hartono mengungkapkan,
Kolaborasi ini menjadi wujud komitmen FIFGROUP untuk mendukung lahirnya berbagai kisah inspiratif yang menampilkan kekayaan budaya, alam, dan potensi daerah di Indonesia sekaligus memberi inspirasi luas kepada masyarakat.
Melalui kolaborasi ini, FIFGROUP berharap perjalanan Kristian Hansen menjadi sarana untuk memperkenalkan kekayaan budaya, alam, dan potensi daerah Indonesia secara lebih luas, sejalan dengan semangat FIFGROUP sebagai Satu Solusi Kebutuhan Pembiayaan yang juga memberi dampak positif bagi masyarakat di setiap daerah yang dijelajahi. (adv)
—
# FIFGROUP Hadir di IMOS 2025
# FIFGROUP Dukung Kristian Hansen
# Kristian Hansen Jelajahi Nusantara
# Kristian Hansen content creator
# Kristian Hansen travel influencer
# Honda CRF1100L Africa Twin









